Post Details

research
  • 31 Mar 2021

FITRAH KOMPETENSI DAN KOMPETENSI BAWAAN

Ketika sebuah workshop yang dihadiri para kepala sekolah alam hampir berakhir. Tiba saatnya peserta harus mempresentasikan karya-karyanya. Saya menanti saat presentasi ini dengan harap-harap cemas. Saya memang khawatir bahwa peserta akhirnya gagal menunjukkan bahwa mereka telah kompeten. Maklumlah, jangankan workshop yang berdurasi dua hari ini, sekian banyak workshop sebelumnya hanya berakhir dengan keluarnya kalimat menyerah : “Kami nggak mampu, Pak Aad...”

Kemarin, seharian saya hanya membekali mereka dengan motivasi agar mereka lebih percaya diri, agar lebih “sok tahu”, agar berani lebih “nekad” dan “tak tahu malu”. Tak ada lagi kompetensi baru yang saya ajarkan. Tak ada lagi pengalaman baru yang saya bagikan. Ini adalah saatnya untuk performing, karena masa forming telah terlalu panjang dilewati. Ini adalah saatnya untuk ambil keputusan, lalu bertawakkal : apapun yang akan terjadi, biarlah terjadi.

Namun, alhamdulillah, segalanya berakhir bahagia : happy ending. Mereka tampil memukau. Tampak urat-urat nekad melintang di kening mereka, tampil begitu mempesona. Mereka telah mengeluarkan fitrah mereka yang sebenarnya, bahwa sebenarnya mereka sungguh-sungguh mampu. Ini memang kesempatan terakhir untuk mereka unjuk diri, karena resikonya jika gagal tak main-main : mereka akan berhenti sebagai kepala sekolah. Lalu, sebuah sunnatullah membuktikan dirinya : bahwa dalam situasi kepepet manusia akan menunjukkan kualitasnya.

Sungguh, peristiwa pagi ini semakin meyakinkan saya akan sebuah fitrah manusia : kompeten! Betul, manusia itu makhluk kompeten. Bahkan sejumlah kompetensi itu bawaan sifatnya, dari “sono”nya, ketika Allah meniupkan ruhNya kepada manusia. Sejumlah training boleh jadi bukan untuk membentuk kompetensi pada diri manusia (outside-in), tapi untuk menstimulasi dan mengaktivasi kompetensi yang telah tertanam pada diri manusia (inside-out).

Saya jadi teringat pengalaman beberapa tahun silam, saat menyelenggarakan Sekolah Berpikir yang saya namakan SOCRATES : School of Creative Thinking for Efective Solution. Apa yang saya ajarkan? Keterampilan dan kompetensi berpikir?

Sama sekali tidak, karena saya sendiri juga tak pernah diajarkan caranya berpikir. Yang saya ajarkan Cuma satu : kalian sebenarnya mampu berpikir. Sesi-sesi berpikir itu penuh dengan motivasi demi motivasi. Agar mereka tahu bahwa mereka mampu, agar mereka percaya diri bahwa mereka mampu. Hanya sesekali saya menyelipkan beberapa teori berpikir, atau “tips and tricks” keterampilan berpikir.

Dan terbukti mereka memang mampu, mereka kompeten. Karena berpikir sejatinya adalah kompetensi bawaan yang hanya butuh aktivasi. Saya mencoba mengaktivasinya dengan menyentuh emosi terdalam mereka, dan menghadapkan mereka pada situasi-situasi kepepet yang memaksa mereka untuk berpikir. Lalu sayapun terpukau akan kemampuan mereka.