Post Details

research
  • 16 Apr 2021

Fitrah Ayah

By : Harry Santosa

Mengapa para Ayah tidak tertarik dengan Parenting, mengapa Ibu lebih tertarik dengan parenting? Lalu banyak yang tergesa menyimpulkan bahwa fitrah Ayah lebih kepada pekerjaan atau materi, sedang fitrah Ibu lebih kepada mendidik anak? Benarkah?

Fenomena banyaknya sesuatu, tidak lantas menentukan bahwa itu fitrah. Bahkan justru fenomena di masa kini, lebih sering karena menjauh dari fitrah.

Sebenarnya, jika fitrahnya lurus, maka yang lebih membutuhkan parenting adalah Ayah, itulah mengapa mendidik anak di Kitabullah lebih banyak disampaikan para Ayah, seperti Luqmanul Hakim kepada anaknya, Ibrahiem AS kepada Ismail AS, Ya'qub AS kepada Yusuf AS dstnya.

Apabila para Ayah menyadari dan memerankan peran fitrah keayahannya dengan baik, maka merekalah yang paling semangat mendalami ilmu pendidikan. Jika tidak, maka fitrahnya telah menyimpang atau ia terasing dari fitrah keayahannya.

Mengapa muncul fenomena kaum ibu nampak lebih tertarik parenting? Karena para Ayah tidak hadir, maka para Ibu tak bisa menunggu, fitrah kebundaan adalah memastikan bahwa fitrah anak anaknya terawat baik.

Walau Ayah lebih banyak di ruang publik, namun bukan berarti dia tak punya peran besar dalam pendidikan keluarganya.

Sesungguhnya dalam pendidikan keluarga, peran fitrah Ayah adalah Perancang Besar pendidikan anak anaknya, termasuk Misi Visi Keluarga dan Misi Visi Pendidikan Keluarganya. Sementara peran fitrah Ibu adalah mendukung dan mendetailkan Misi Keluarga suaminya dan menrinci Rancangan Besar Pendidikan suaminya untuk diterapkan anak anaknya.

Jika hari ini para ayah tidak mampu memastikan itu semua, maka munculah fenomena Ibu yang panic parenting. Sejak revolusi industri memang para Ayah hanya disekolahkan untuk gelar dan materi, tak pernah disiapkan fitrahnya untuk menyambut fitrah keayahan.

Para Ibu juga sebenarnya mengalami sistem pendidikan yang sama buruknya, sehingga tergerus fitrah keibuannya, namun karena mereka penjaga shaf belakang peradaban dan dalam kesehariannya membersamai anak anaknya, sementara para Ayah tidak hadir, maka para Ibu mau tidak mau, suka tidak suka mereka sibuk wara wiri belajar parenting.

Hasilnya tentu saja tidak akan pernah maksimal, karena pendidikan tak bisa hanya Ibu yang berperan, justru peran kunci dan utama dalam pendidikan keluarga adalah Ayah.

Pengalaman saya di dunia pendidikan keluarga, selalu ditemukan pada keluarga keluarga bahagia, bahwa ketika para Ayah tampil memerankan peran fitrah keayahannya, maka semua urusan mendidik anak beres. Para Ibu lebih tenang dan semangat, lebih pasti dan bahagia.

Kebahagiaan itu bicara kepastian akan suatu kebenaran tertinggi dan tindakan untuk memenuhi kepastian itu. Kepastian itu adalah suatu yang alami dan permanen di dalam jiwa manusia (fitrah) dan dirasakan oleh organ spiritual bernama Qolb.

Mari persiapkan anak anak lelaki kita untuk mampu memerankan fitrah keayahannya dengan baik, agar di masa depan tidak ada lagi tangis dan gelisah para Istri yang suaminya ada namun tiada, yang anak anaknya gagal didik dan gagal jantan karena kurang hadirnya ayah.

Lebih jauh lagi, agar lahir kembali generasi terbaik sebagaimana generasi sebelumnya di dalam alQuran dimana para Ayahlah sang pendidik utama di dalam keluarga.
#fitrahbasedlife